Jumat, 29 Januari 2010

Keringat Berlebihan, Bagaimana Mengatasinya?

Ada sejumlah orang yang terus berkeringat, padahal suhu udara tidak terlalu panas atau dia tidak habis berlari-lari. Kamu pasti pernah melihatnya. Intinya, keringatnya jauh di atas keringat normal orang rata-rata. Kok bisa ya? Yuk kita simak penjelasan ilmiahnya.

Artikel ilmiah populer ini akan membahas tentang:
1. Sinonim
2. Penyebab (Etiologi)
3. Patofisiologi (Proses Perjalanan Penyakit)
4. Manifestasi Klinis
5. Pemeriksaan Penunjang
6. Penatalaksanaan
7. Diagnosis Banding
8. Komplikasi
9. Pencegahan
10. Prognosis
11. Referensi dan Bacaan Lebih Lanjut

Sinonim
Nama lain untuk hiperhidrosis antara lain: keringat berlebihan, hyperhidrosis, hyperidrosis, polyhidrosis, excessive sweating.

Penyebab (Etiologi)
Secara umum, penyebab hiperhidrosis dapat tidak diketahui penyebabnya (idiopathic), merupakan kondisi sekunder terhadap penyakit lainnya gangguan metabolik, demam, penggunaan obat-obat tertentu,
Berbagai referensi juga menyebutkan berbagai penyebab hiperhidrosis antara lain: makanan pedas, minuman (panas/berkafein/beralkohol), overdosis obat (morfin, aspirin), menopause, TBC, malaria, serangan jantung, penyakit tertentu (thyrotoxicosis, hyperthyroidism, hypoglycemia, leukaemia, lymphoma, pheochromocytoma). Spinal cord injury (cedera tulang belakang). Ketidaknormalan sistem saraf yang mengendalikan keringat juga merupakan penyebab hiperhidrosis (Anurogo D, 2008).

Generalized hyperhidrosis dapat merupakan kondisi sekunder dari berbagai kondisi berikut ini:

1. Penyakit neurologis (berhubungan dengan saraf) atau neoplastik (berhubungan dengan neoplasma)
2. Gangguan atau proses metabolik (misalnya: thyrotoxicosis, diabetes mellitus, hypoglycemia, gout, pheochromocytoma, menopause)
3. Demam (febrile illnesses)
4. Penggunaan obat-obatan
Beberapa obat yang dapat menimbulkan hiperhidrosis misalnya: propranolol, physostigmine, pilocarpine, tricyclic antidepressants, dan serotonin reuptake inhibitors. Khusus untuk efavirenz dapat mencetuskan keringat berlebihan pada malam hari (excessive nocturnal sweating).
5. Konsumsi alkohol dalam waktu yang lama (chronic alcoholism)
6. Hodgkin disease atau tuberculosis (pada nocturnal hyperhidrosis).

Untuk localized hyperhidrosis, dapat disebabkan oleh berbagai kondisi berikut ini:
1. Rangsang pengecapan atau gustatory (berhubungan dengan Frey syndrome, encephalitis, syringomyelia, diabetic neuropathies, herpes zoster parotitis, dan abses parotid)
2. Eccrine nevus
3. Eccrine angiomatous hamartoma
4. Blue rubber-bleb nevus
5. Tumor glomus
6. Sindrom POEMS, yaitu:
a. Peripheral neuropathy,
b. Organomegaly (pembesaran organ tubuh),
c. Endocrinopathy (penyakit hormonal),
d. Monoclonal plasma-proliferative disorder,
e. Skin changes (perubahan kulit)
7. Sensasi kaki terbakar (burning feet syndrome)
8. Pachydermoperiostosis
9. Pretibial myxedema

Keadaan localized unilateral or segmental hyperhidrosis merupakan kondisi yang jarang dijumpai dan belum diketahui penyebabnya. Kondisi ini biasanya mengenai lengan bawah atau dahi.

Patofisiologi (Proses Perjalanan Penyakit)

Menurut Schwartz RA, et.al., (2009), ada tiga bentuk hyperhidrosis:
1. Dipicu oleh kondisi emosional (emotionally induced)
2. Setempat (localized)
3. Umum (generalized)

Generalized hyperhidrosis dapat disebabkan oleh disregulasi otonom, atau merupakan keadaan sekunder dari gangguan metabolik, febrile illness, atau keganasan.

Bentuk hiperhidrosis setempat (localized hyperhidrosis) merupakan hasil atau akibat dari gangguan yang diikuti regenerasi abnormal saraf-saraf simpatik atau ketidaknormalan setempat di sejumlah atau pada penyebaran kelenjar ekrin (exocrine glands), atau dapat juga berhubungan dengan ketidaknormalan lainnya (biasanya berhubungan dengan pembuluh darah/vaskuler).

Intinya, hiperhidrosis merupakan suatu gangguan kelenjar keringat ekrin yang berhubungan dengan overaktivitas simpatik. Ini bukanlah gangguan generalisata yang melibatkan vascular endothelium.

Manifestasi Klinis
Keringat berlebihan pada (telapak) tangan, ketiak, daerah kemaluan, (telapak) kaki; dapat dipicu oleh stres, emosi, olahraga. Sering ganti pakaian.

Pemeriksaan Penunjang
Beberapa pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosis hiperhidrosis dan menyingkirkan berbagai diagnosis banding adalah sebagai berikut ini:

1. Tes fungsi tiroid, untuk menyatakan kemungkinan hipertiroidisme atau tirotoksikosis.
2. Kadar glukosa darah, untuk menyatakan kemungkinan diabetes mellitus atau hipoglikemia.
3. Pemeriksaan katekolamin urin, untuk menyatakan kemungkinan pheochromocytoma.
4. Kadar asam urat, untuk menyatakan kemungkinan gout.
5. Tes purified protein derivative (PPD) sebagai screening untuk tuberkulosis.
6. Rontgen dada (chest radiography), untuk menyingkirkan kemungkinan tuberkulosis atau penyebab neoplastik.

Penatalaksanaan
Pada prinsipnya ada lima alternatif penatalaksanaan kasus hiperhidrosis, antara lain:

1. Agen topikal
2. Agen sistemik
3. Iontophoresis
4. Suntikan Botox (Botulinum toxin injections)
5. Pembedahan

Agen Topikal
Menurut Sato K, et.al. (1989), agen topikal termasuk topical anticholinergics, boric acid, 2-5% tannic acid solutions, resorcinol, potassium permanganate, formaldehyde (yang dapat menyebabkan sensitisasi), glutaraldehyde, dan methenamine.

Drysol (20% aluminum chloride hexahydrate dalam absolute anhydrous ethyl alcohol) umum digunakan sebagai lini pertama agen topikal, dipakai pada malam hari pada kulit yang kering.

Untuk meminimalkan iritasi, sisa obat sebaiknya dicuci saat pasien bangun tidur, lalu daerah tersebut dinetralkan dengan aplikasi topikal baking soda.

Agen Sistemik
Menurut Klaber M, Catterall M. (2000), agen sistemik di antaranya adalah antikolinergik, sedatives dan tranquilizers, indomethacin, dan penghambat saluran kalsium (calcium channel blockers).

Antikolinergik seperti propantheline bromide, glycopyrrolate, oxybutynin, dan benztropine efektif karena neurotransmiter preglandular untuk sekresi keringat adalah asetilkolin (meskipun sistem saraf simpatik merangsang kerja (meng-innervate) kelenjar keringat ekrin.

Penggunaan antikolinergik mungkin tidak begitu menarik karena efek sampingnya seperti: refleks dilatasi pupil (mydriasis), penglihatan kabur (blurry vision), mulut dan mata terasa kering, sulit kencing, dan konstipasi.

Agen sistemik lainnya seperti sedatives dan tranquilizers, indomethacin, dan calcium channel blockers, bermanfaat untuk mengobati palmoplantar hyperhidrosis, yaitu hiperhidrosis di daerah telapak tangan dan telapak kaki.

Iontophoresis
Untuk kasus palmoplantar hyperhidrosis, dosis harian untuk setiap telapak tangan atau telapak kaki selama 30 menit adalah 15-20 mA dengan tap water iontophoresis. Menurut Abell E dan Morgan K (1974), terapi dengan anticholinergic iontophoresis lebih efektif daripada dengan tap water iontophoresis.

Suntikan Botox
Menurut Fujita M, et.al. (2001), suntikan Botulinum toxin efektif karena efek antikolinergiknya pada neuromuscular junction dan pada postganglionic sympathetic cholinergic nerves di kelenjar keringat.

Pembedahan
Tindakan pembedahan yang dapat dilakukan untuk mengatasi hiperhidrosis antara lain: sympathectomy, eksisi daerah yang mengalami hiperhdrosis, penggunaan laser 1064-nm Nd-YAG, dan liposuction subkutan.

Sympathectomy merupakan pilihan terakhir di dalam penatalaksanaan hiperhidrosis karena melibatkan tindakan perusakan (surgical destruction) ganglia yang bertanggung jawab atas terjadinya hiperhidrosis (Hsu CP, et.al., 2001).

Ganglia thoracic kedua (T2) dan ketiga (T3) bertanggung jawab untuk palmar hyperhidrosis. Ganglia thoracic keempat (T4) mengendalikan axillary hyperhidrosis. Sedangkan ganglia thoracic pertama (T1) mengontrol facial hyperhidrosis.

Dua pendekatan pembedahan yang dilakukan: pendekatan terbuka dan endoskopik. Pendekatan endoskopik lebih disukai karena proses perbaikan dari komplikasi, surgical scars, dan waktu pembedahan. Sehingga jelaslah bahwa endoscopic thoracic sympathectomy merupakan terapi yang efektif untuk hiperhidrosis.

Diagnosis Banding
Berbagai penyakit yang perlu dipertimbangkan sebagai diagnosis banding hiperhidrosis antara lain:
1. Burning feet syndrome
2. Blue Rubber Bleb Nevus Syndrome
3. Demam (febrile illnesses)
4. Diabetes mellitus
5. Eccrine angiomatous hamartoma
6. Eccrine nevus
7. Gout
8. Hipoglikemia
9. Hodgkin disease
10. Menopause
11. Pachydermoperiostosis
12. Penggunaan alkohol dalam waktu lama (chronic alcoholism)
13. Penggunaan obat-obatan (misalnya: propranolol, physostigmine, pilocarpine, tricyclic antidepressants, venlafaxine)
14. Penyakit neoplastik
15. Penyakit neurologis
16. Pheochromocytoma
17. POEMS Syndrome
18. Pretibial Myxedema
19. Riley-Day syndrome (familial dysautonomia)
20. TBC (Tuberculosis)
21. Tirotoksikosis
22. Tumor glomus

Komplikasi
Beberapa kasus hiperhidrosis yang berat dapat mengurangi kualitas hidup pasien, misalnya menimbulkan penderitaan psikologis yang mendalam (great emotional distress), malu berinteraksi dengan masyarakat (social embarrassment), dan ketidakmampuan yang berhubungan dengan pekerjaan.

Berkeringatnya telapak kaki dan tangan (palmoplantar sweating) dapat menyebabkan iritasi pada kulit yang terkena, yang pada akhirnya memicu gerakan menggosok-gosok.

Hiperhidrosis di ketiak menimbulkan bau tak sedap, menimbulkan rasa malu.

Pencegahan
Bersihkan kulit setiap malam dan pagi. Hindari pakaian dari bahan lycra dan nylon. Lebih baik gunakan emollient (penyejuk, pelembut kulit) dan moisturizer (pelembab kulit) daripada sabun. Pakailah warna yang tidak menampakkan keringat, misal: hitam, putih (Anurogo D, 2008).

Prognosis
Hiperhidrosis sukar diterapi secara efektif. Meskipun demikian, dengan berbagai modalitas terapi yang tersedia sekarang, pasien memiliki banyak pilihan sehingga prognosisnya menjadi lebih baik.

Referensi dan Bacaan Lebih Lanjut

Abell E, Morgan K. The treatment of idiopathic hyperhidrosis by glycopyrronium bromide and tap water iontophoresis. Br J Dermatol. Jul 1974;91(1):87-91.

Anurogo D. 123 Penyakit dan Pengobatannya. Penerbit Ide Media. Semarang. 2008.

Fujita M, Mann T, Mann O, Berg D. Surgical pearl: use of nerve blocks for botulinum toxin treatment of palmar-plantar hyperhidrosis. J Am Acad Dermatol. Oct 2001;45(4):587-9.

Hsu CP, Shia SE, Hsia JY, Chuang CY, Chen CY. Experiences in thoracoscopic sympathectomy for axillary hyperhidrosis and osmidrosis: focusing on the extent of sympathectomy. Arch Surg. Oct 2001;136(10):1115-7.

Klaber M, Catterall M. Treating hyperhidrosis. Anticholinergic drugs were not mentioned. BMJ. Sep 16 2000;321(7262):703.

Sato K, Kang WH, Saga K, Sato KT. Biology of sweat glands and their disorders. II. Disorders of sweat gland function. J Am Acad Dermatol. May 1989;20(5 Pt 1):713-26.

Schwartz RA, Altman R, Kihiczak G. Hyperhidrosis. In: eMedicine Specialties > Dermatology > Diseases of the Adnexa. Updated: May 29, 2009.

Stiller MJ. Sweating Disorders. In: Beers MH, et.al. (Ed.). The Merck Manual of Medical Information. Second Home Edition. Merck Research Laboratories. PA, USA. 2003. Chapter 206:1210-1211.



Tentang Penulis: Dr Dito Anurogo

Dr. Dito Anurogo, alumnus Fakultas Kedokteran UNISSULA Semarang, juga anggota FLP (Forum Lingkar Pena) Semarang dan Member of IFMSA (International Federation of Medical Students' Associations). Prestasinya: pernah menjadi delegasi Indonesia untuk INTERNATIONAL TRAINING EXCHANGE PROGRAMME di Hungaria, Delegasi Indonesia untuk riset di Italia dan menjadi juara II HOKI Online Literary Awards 2008 (HOLY 2008). Ia juga pernah menjadi Nominator Lomba Penulisan Esai Ilmiah Populer Harun Yahya ... Selengkapnya »


Sumber :
http://netsains.com/2009/06/keringat-berlebihan-bagaimana-mengatasinya/
20 Juni 2009

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar